cinta dan pernikahan

Seorang murid bertanya tentang cinta. Sang guru menjawab, “Masuklah ke dalam hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang menurutmu paling baik, tetapi engkau harus terus berjalan dan jangan kembali ke belakang. Pada saat kau sudah menentukan pilihan, ke luarlah dari hutan dengan membawa ranting tersebut.” Maka, masuklah sang murid ke dalam hutan. Tak lama kemudian ia keluar tanpa membawa sebatang ranting pun. Murid itu bercerita, ”Sebenarnya aku sudah menemukan ranting yang bagus, tetapi aku berfikir barangkali di depan sana ada ranting yang lebih baik. Namun setelah saya berjalan, ternyata ranting yang saya tinggalkan itulah yang terbaik. Maka saya ke luar tanpa membawa apa-apa.” Sang guru berkata, “Itulah cinta.” Kemudian murid itu bertanya mengenai pernikahan. Guru menjawab, “Sama seperti ranting tadi, namun engkau harus membawa satu pohon yang kau pikir paling baik, lalu bawalah ke luar dari hutan.” Masuklah sang murid ke dalam hutan dan ke luar lagi dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu bagus. “Saya bertemu pohon yang indah daunnya, besar batangnya, dan harum buahnya, tetapi saya tak dapat memotongnya. Saya pun tak mampu membawanya ke luar dari hutan, hingga saya meninggalkannya. Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu tinggi, dan saya pikir mampu membawanya. Saya beranggapan mungkin saya tidak akan menemui pohon seperti ini di depan sana. Akhirnya saya pilih pohon ini karena yakin mampu merawatnya. Guru itu berkata, “Itulah pernikahan.”

~ oleh Raziel pada April 16, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: