Sedekah siti fatimah

Jabir bin Abdullah Al-Anshary pernah bercerita. Pada suatu hari, seusai menunaikan shalat, Rasulullah Saw, duduk menghadap kiblat dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba datang seorang laki-laki lanjut usia, berbadan lemah, dan memakai pakaian yang sangat kumal
Rasulullah Saw menanyakan keadaan si tua renta itu. Dengan bibir gemetar ia menjawab, ” Ya Rasul, tolong berikan aku makanan sekadar mengisi perut, dan tolong berikan aku pakaian sekedar untuk menutup aurat karena aku hanya memiliki pakaian yang aku pakai ini.”
” Bagaimana ya, aku sendiri tidak mempunyai apa-apa. Cobalah engkau pergi ke rumah putriku, Siti Fatimah. Ia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya,” jawab Rasulullah Saw dengan wajah iba.
Sambil menunjuk ke arah rumah Siti Fatimah, Rasulullah Saw meminta agar Bilal bin Rabah mengantarkan orang itu. Setibanya di rumah Siti Fatimah, dengan suara parau orang tua itu memanggil-manggil dengan ucapan, “Yaa ahlul bait.”
Mendengar teriakan itu Siti Fatimah keluar sambil memberi salam.
” Bapak ini siapa?” tanya siti fatimah.
” Aku orang tua pegunungan. Aku lapar, pakaian cuma satu yang aku pakai sekarang. Aku sudah datang kepada ayahmu, namun baginda memerintahkan aku datang ke sini untuk meminta pertolongan.”
Melihat orang tua yang terus-menerus menatapnya itu Siti Fatimah menjadi kikuk. Ia bingung memikirkan apa yang dapat diberikan, sedangkan ia sendiri sudah dua hari puasa.
Ibu Hasan dan Husain itu agak heran, mengapa ayahnya menganjurkan supaya datang ke rumahnya, padahal dia tahu benar betapa sulitnya kehidupan yang ia alami sehari-hari. Tetapi melihat keadaan orang tua itu Siti Fatimah mencari-cari apa yang hendak diberikan.
Akhirnya Siti Fatimah mengambil selembar kulit kambing yang biasa dipakai untuk alas tidur Hassan dan Husain, kemudian diberikannya kepada orang tua yang meminta pertolongan itu. Tentu saja orang itu tidak habis pikir, ia keheranan menerima selembar kulit kambing, padahal yang dimintanya makanan untuk mengisi perut. Dengan nada protes orang itu berkata, ” Hai putri Muhammad, aku datang kepadamu karena aku lapar dan lemas, tetapi mengapa yang engkau berikan hanya kulit kambing? Lalu apa yang dapat aku perbuat dengan selembar kulit ini?”
Dengan keadaan malu, pilu, dan bingung Siti Fatimah teringat bahwa ia masih mempunyai benda yang berharga, yaitu seuntai kalung hadiah dari bibinya. Tanpa banyak pikir kalung yang bertuliskan “Siti Fatimah” itu diserahkannya kepada orang tua tersebut.
Dengan wajah yang cerah orang itu membawa seuntai kalung ke mesjid, tempat Rasulullah Saw dan para sahabat berkumpul. Si tua renta itu berdoa, ” Mudah-mudahan Allah Swt akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik,” ucapnya sambil memberi tahu Rasulullah dan para sahabat bahwa Siti Fatimah memberikannya kalung.
Mendengar itu Rasulullah Saw tidak dapat menahan perasaannya sehingga menangis. Melihat kejadian yang mengharukan itu, Amr bin Yasir berminat memiliki kalung tersebut.
” Ya Rasulullah, bolehkah aku membeli kalung itu:”
” Belilah jika engkau mau, ” jawab Rasulullah sambil menyeka air mata.
” Berapa akan kau jual kalung ini?” tanya Amr bin Yasir kepada si tua renta.
” Kalau engkau mau, belilah seharga beberapa potong roti dan daging.”
” Cuma itu?”
” Dan kalau kamu mau, tambah secarik kain untuk menutup aurat agar aku bisa shalat, dan uang satu dinar untuk aku pulang.”
Dengan tawaran yang tidak terlalu berat bagi Amr, maka kalung itu dibeli seharga 20 dinar dan 100 dirham, bahkan diberi roti dan daging untuk menghilangkan rasa lapar serta pakaian dan unta untuk kendaraan pulang.
” Alangkah baiknya hatimu,” ujar orang tua renta. Sinar matanya memancar bahagia. Ia bahagia menerima hasil atas penjualan kalung pemberian Siti Fatimah. Setelah urusan jual beli selesai, ia kembali kepada Rasulullah Saw dengan perut kenyang, pakaian rapi, dan berkendaraan unta.
Rasulullah Saw tersenyum melihat si tua renta itu, lalu bertanya, ” Bagaimana keadaanmu sekarang?”
” Ya Rasulullah, aku merasa lebih dari cukup.”
Mendengar pembicaraan orang tua renta itu Rasulullah Saw hanya tersenyum ikut bahagia. Orang tua itu lalu berdoa, ” Ya Allah, tidak ada yang aku sembah selain Engkau. Berilah Siti Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga.”
Mendengar doa itu Rasulullah Saw menoleh kearah sahabat, lalu berkata, ” Sesungguhnya di dunia ini Allah telah memberikan kepada Siti Fatimah apa yang dimohonkan orang tua itu. Ia mempunyai ayah seperti aku, seorang utusan Allah bagi alam semesta. Fatimah pun telah memiliki suami, Ali k.w., serta Hassan dan Husain sebagai pemuda surga.”
Berkenaan dengan doa orang tua renta itu Rasulullah Saw bercerita kepada sahabat bahwa ia didatangi Jibril yang mengabarkan tentang perintah Allah agar malaikat melindungi dan menyertai kehidupan Siti Fatimah. ” Barang siapa yang berziarah ke makamku, sama artinya berkunjung kepadaku di kala aku masih hidup. Barang siapa berziarah ke makan Siti Fatimah, sama artinya berziarah ke makamku,” ujar Rasulullah.
Setelah Amr membeli kalung dari orang tua renta itu, ia memerintahkan Saham ( seorang hamba sahaya ) untuk menyerahkan kalung tersebut kepada Rasulullah. Juga menyisipkan surat bertuliskan: “Berikan kalung ini kepada Rasulullah dan sekaligus aku serahkan engkau kepada Rasulullah……..”
Alangkah terkejutnya Rasulullah Saw ketika menerima bungkusan berisi kalung dan sehelai surat. Rasulullah menilai bahwa Amr mempunyai sebuah kesadaran besar terhadap apa yang telah ia lakukan, yaitu membebaskan hamba sahaya, sebah hal itu merupakan usaha menghilangkan anggapan bahwa manusia berbeda kedudukan satu dengan yang lainnya.
Rasulullah memerintahkan Saham agar membawa bungkusan berisi kalung tersebut kepada Siti Fatimah.
Siti Fatimah sangat gembira, kalung yang disayangi itu menjadi miliknya kembali. Tentang Saham, Fatimah berkata, ” Mulai saat ini juga engkau aku merdekakan.”
” Betapa besar berkah seuntai kalung itu. Ia telah menyelamatkan perut orang kelaparan, menutup aurat orang yang hampir telanjang, membuat orang miskin merasa kaya, dan sekarang…. kalung ini memerdekakan aku sebagai budak, ” ujar Saham sambil mengucap terima kasih dan mohon pamit.

”… yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS Ali Imran ayat 133-134)

Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

Barangsiapa ingin do’anya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “ Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu ? ” Nabi Saw menjawab, “ Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “ Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya ” Mereka bertanya: “ Bagaimana kalau dia tidak melakukannya ? ” Nabi menjawab: “ Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “ Bagaimana kalau dia tidak melakukannya ? ” Nabi Saw menjawab, “ Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

~ oleh Raziel pada April 23, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: