Cerita dibalik insya Allah

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa ketika pertentangan pemikiran antara Rasulullah saw. dan kaum Quraisy di Mekah semakin memanas, kaum Quraisy meminta bantuan kepada orang Yahudi di Madinah. Kaum Quraisy mengutus Nadhir bin Haritsah dan Uqbah bin Abi Mu’aith kepada para rabbi Yahudi untuk bertanya pada mereka tentang kenabian Rasulullah saw..

Sampai keduanya di sana kemudian berkata, “Kalian adalah Ahli Kitab (Taurat), kami datang kepadamu agar kamu mengabarkan kami tentang sahabat kami ini!” Para rabbi itu menjawab, “Tanyakan padanya tiga hal yang kami perintahkan, jika ia mengetahui dua yang pertama dan tidak mengetahui yang ketiga, maka ia benar seorang Nabi yang diutus, tetapi jika ia tidak dapat menjawabnya, berarti ia mengada-ada, kemudian terserah kalian.”

“Pertama, tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan, sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.” ”

“Kedua, tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana, ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.”

“Ketiga, tanyakan padanya tentang apa itu roh.”

Keduanya lalu kembali kepada kaum Quraisy dan berkata, “Wahai penduduk Quraisy, kami datang kepadamu dengan membawa pembeda antara kamu dan Muhammad. Para rabbi Yahudi itu menyuruh kita agar menanyakannya tentang hal-hal yang mereka perintahkan.”

Mereka lalu datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Hai Muhammad, beri tahukan kami tentang pemuda yang pergi pada masa lalu, mereka mempunyai kisah yang menakjubkan, tentang laki-laki yang berkeliling ke seluruh penjuru dunia, dan beritahukan kami tentang roh.”

Maka Rasulullah saw. menjawab, “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok.”

Esok pun tiba, tetapi Jibril tidak datang memberi jawaban, lalu Rasulullah saw. berdiam diri selama lima belas hari, tetapi wahyu Allah tidak kunjung datang. Penduduk Mekah terguncang, terujilah keimanan mereka, dan mereka berkata, “Muhammad telah berjanji kepada kita satu hari, dan hari ini telah lima belas hari, tetapi Muhammad belum juga memberi tahu kita tentang hal itu.” Sedihlah hati Rasulullah saw. karena wahyu Allah belum juga sampai padanya. Beliau juga merasa gelisah atas apa yang dikatakan oleh penduduk Mekah.

Hingga akhirnya saat yang dinantikan pun turun wahyu berupa ayat yang menegur Rasulullah ketika alpa (terlupa) mengucapkan insya Allah.

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu esok pagi,” kecuali dengan mengatakan Insya Allah (jika Allah menghendaki)” Dan Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat pada kebenaran dari pada ini.” (al-Kahfi (18) ayat 23-24).


“Insya Allah” yang berarti “jika Allah menghendaki atau mengizinkan” bukanlah hanya sekedar ucapan atau bahkan digunakan menghindari janji, tetapi sebagai usaha sekuat tenaga dan hati untuk memenuhinya. Kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.
Walaupun Rasulullah pernah lupa, akan tetapi hal ini tidak mengurangi kenabian dan keterjagaan beliau dari kesalahan. Lupa yang terjadi kepada Rasulullah adalah atas kehendak Allah, dan satu hal yang Rasulullah tidak akan pernah lupa adalah ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepada beliau, ini janji Allah.

Setiap lupanya Rasulullah, membawa hikmah dan pelajaran bagi diri beliau dan Ummatnya,
Dikisahkan pula suatu waktu ketika beliau melaksanakan sholat, diperhatikan oleh sahabatnya, pada roka’aat kedua beliau langsung berdiri, dan melupakan tasyahud awwal. Lalu sahabatnya itu bertanya soal itu kepada beliau. Lalu beliau duduk menghadap kiblat, dan sujud dua kali, lalu salam.

Lalu beliau menghadap ke sahabatnya itu dan bersabda, “Jika ada perubahan dalam sholat, pasti kalian akan aku beritahu, tetapi aku ini hanyalah seorang manusia yang dapat lupa sebagaimana kalian, jika aku lupa, ingatkanlah aku. Jika salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam sholatnya maka hendaklah ia mencari yang benar, dan menyempurnakan sholatnya itu kemudian lakukanlah sujud sebanyak dua kali.” (HR. Imam Muslim)

Lupanya Rasulullah SAW menjadi sebab diturunkannya syari’at: “Sujud Sahwi”.


Setelah turunnya beberapa wahyu Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW menjawab dua pertanyaan pertama beliau yaitu kisah ashabul Kahfi dan Dzulqarnain. Dan untuk pertanyaan yang ketiga, tentang apa itu ruh? Beliau menjawab dengan wahyu Allah lainnya, tapi kali ini tidak mendetail. Beliau hanya membacakan ayat, “Dan mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit saja” (al-Isro’ (17) : 85)

Karena pada hakikatnya tidak ada satu manusia pun yang mengetahui apa itu ruh, juga bentuknya. Dan pengetahuan akan hal tersebut ada pada sisi Allah. Hanya Allah yang mengetahui.

Dengan demikian terbuktilah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah SWT. Keraguan yang awalnya sempat merebak di kalangan penduduk Mekkah, karena Allah menahan wahyu-Nya selama 15 hari, kini pun berubah menjadi keyakinan yang mendalam akan kenabian beliau. Walaupun begitu tetap saja masih terdapat beberapa orang-orang kafir Quraisy yang ingkar..

“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu ungkapan tentang Islam, yang saya tidak memintanya kepada siapapun kecuali kepadamu.” Rasulullah saw bersabda, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian Istiqamahlah.” (H.R. Muslim)

~ oleh Raziel pada Mei 14, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: