Mau Punya Tetangga Musuh Atau Teman?

•Agustus 13, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mau Punya Tetangga Musuh Atau Teman?

Pada zaman Tiongkok Kuno, ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang
berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan
kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan
mengejar-ngejar domba-domba petani.

Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia
tidak mau peduli.

Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing
sehingga terluka parah. Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk
pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata,
“Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai
dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman
dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh
yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga
domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap
sebagai teman.”

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia
mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak
tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain
dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing
pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu
domba-domba pak tani.

Di samping rasa terima kasihnya kepada kedermawanan petani kepada
anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani. Sebagai
balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu
singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, “Cara Terbaik untuk mengalahkan
dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.”

Sama dengan ungkapan Amerika yang mengatakan, “Seseorang bisa menangkap
lebih banyak lalat dengan madu dari pada dengan cuka.”

Puasa ,antara shaum dan shiyam

•Agustus 12, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

PUASA, ANTARA SHAUM DAN SHIYAM

Oleh: A. Khudori Soleh

Kata “puasa” dengan segala bentuknya, dalam bahasa Arab, disebut 13 kali dalam al-Qur’an. Paling sering digunakan istilah shiyâm dan hanya satu kali dengan kata shaum. Meski demikian, kata shaum mengandung makna lebih dibanding shiyâm. Shiyâm hanya berarti berpuasa dengan mencegah makan, minum dan “bergaul” dengan dengan istri mulai fajar sampai maghrib, sedang shaum mencegah lebih dari apa yang tidak boleh dalam shiyâm, yaitu harus mencegah bicara, mencegah mendengar, mencegah melihat, dan bahkan mencegah pikiran. Dalam pandangan al-Ghazali, shiyâm inilah bentuk puasa yang sesungguhnya yang akan mengantarkan manusia kepada derajat taqwa, sedang shiyâm adalah perilaku puasa syareat, puasa masyarakat awam, sedang shaum adalah perilaku puasa hakekat, puasa orang-orang pilihan. Al- Qur’an sendiri menggunakan kata shaum – dan hanya satu kali – dalam kaitanya dengan perilaku puasa Maryam, manusia suci bunda Isa AS, (QS. Maryam, 26).

Puasa BicaraPerilaku pertama dari shaum, seperti dijelaskan al-Qur’an soal Maryam, adalah puasa bicara. Puasa bicara yang dimaksud ini bukan sekedar menahan lidah untuk mencaci, menggunjing, menghujat atau bicara kotor lainnya, karena semua itu memang sudah terlarang meski tidak dalam keadan puasa sekalipun. Dalam puasa bicara berarti kita hanya berbicara yang benar- benar perlu dan bermanfaat. Pada sebagain besar waktu, kita diam. Selanjutnya, puasa bicara berarti tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami. Tidak akan berbicara sekedar untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang pinter. Tidak akan menjadi pengamat dan pakar dalam semua bidang. Saat ini, kita sering mendengar komentar dan uraian di media massa yang justru menyebabkan masyarakat menjadi bingung, gelisah dan takut. Artinya, komentar-komentar kita telah menyebabkan penderitaan banyak orang. Padahal, Rasul menyatakan “orang Islam adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya”. Dalam konteks ini, apakah kita masih layak dianggap sebagai orang Islam? Ada banyak manfaat, sesungguhnya, yang dapat diperoleh dari puasa bicara ini, antara lain:Pertama, munculnya kemampuan mendengar secara baik. Dalam keluarga, konflik antara suami dan istri atau orang tua dan anak sering terjadi karena semua fihak hanya ingin bicara tetapi tidak mau mendengarkan. Dalam kehidupan bernegara, bencana terjadi karena elit politik hanya belajar bicara tetapi tidak belajar mendengarkan. Jika kita serentak melakukan puasa bicara, khususnya pada bulan Ramadlan ini, kita akan menikmati bulan suci dan juga kehidupan ini dengan penuh kedamaian serta kesejukan.Kedua, adanya kemampuan untuk mendengar bisikan hati nurani secara lebih jernih. Hati nurani (qalb) yang merupakan taman Tuhan dalam diri manusia adalah tempat atau sarana dimana Tuhan menyampaikan petunjuk-Nya. Selama ini kita tidak sanggup mendengar bisikan Tuhan dalam hati karena kita terlalu banyak ngomong. Kita menjadi tuli karena suara bising dari omongan kita sendiri. Lebih dari itu, dalam kisah Maryam, karena Maryam puasa bicara, Tuhan menjadikan bayi dalam buaiannya berbicara dengan amat jelas. Bayi itulah yang menjawab hujatan banyak orang ketika Maryam kembali dari mihrab dengan mengendong bayi.

Puasa MendengarPuasa mendengar bukan hanya menghidarkan diri dari mendengarkan gossip, fitnah atau kata-kata kotor, karena semua itu jelas tidak boleh kita lakukan walau saat tidak berpuasa. Puasa mendengar berarti berusaha secara sadar dan sungguh-sungguh menyeleksi apa yang kita dengar. Kita hanya mendengarkan apa yang dianggap manfaat. Jika disana banyak hal yang bermanfaat, kita hanya akan mendengarkan yang paling manfaat saja. System syaraf, otak dan mental manusia bukan tidak terbatas. Pada titik tertentu ia juga dapat mengalami kejenuhan, kelelahan dan bahkan kolaps. Sebagaimana komputer, jika terlalu banyak informasi yang harus diolah, otak bisa mengalami overload. Kita akan mengalami kelelahan fisik dan bahkan gangguan mental, sehingga tidak dapat memberi makna pada berbagai peristiwa. Kenyataan menunjukkan, banyaknya informasi dan tekanan untuk memberikan makna pada kehidupan telah membuat kita menjadi mudah tersinggung, pemarah dan angresif. Karena itu, Ashley Montague, misalnya, menyebutkan bahwa ketergantungan pada media massa sebagai salah satu sebab dehumanisasi manusia modern. Penonton televisi kelas berat, heavy viewers, cenderung melihat dunia lebih tidak aman dan karenanya mereka menjadi lebih ketakutan dibanding penonton televisi ringan atau masyarakat lain. Pada saat sering terjadi demonstrasi dan isu bom seperti beberapa waktu lalu, misalnya, orang-orang kota yang sering membaca koran, melihat televisi dan mendengarkan radio, memandang Indonesia jauh lebih kacau dan tidak aman daripada penglihatan masyarakat kampung. Karena itu, mereka juga menjadi lebih resah, lebih takut dan bisa-bisa lebih agresif. Dari sini dapat kita pahami mengapa sebagian orang modern ada yang berusaha mencari kedamaian dan ketentraman hati dengan meninggalkan televisi, radio dan media massa lainnya.

Puasa MelihatPerilaku ketiga dari puasa sufi adalah puasa melihat. Seperti dua perilaku sebelumnya, puasa melihat bukan sekedar tidak melihat sesuatu yang dilarang, karena hal itu juga tidak boleh kita lakukan pada saat tidak berpuasa. Puasa melihat berarti kita tidak akan melihat sesuatu yang tidak perlu, atau bahkan mengurangi melihat sesuatu yang sebenarnya boleh dilihat. Dalam Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan orang-orang mukmin untuk menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (QS. al-Nur, 30). Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya, tidak ada salahnya kita keluar sejenak untuk melihat-lihat sesuatu atau berjalan melihat pusat-pusat perbelanjaan. Namun, makin banyak sesuatu yang kita lihat makin besar pula keinginan- keinginan yang muncul. Keinginan yang tidak terpuaskan dan tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Menurut para psikolog, kekecewaan adalah perbandingan antara keinginan dan kenyataan (want dan get). Jika keinginan lebih besar dari perolehan, kita akan mengalami kekecewaan. Makin tinggi keinginan makin besar pula kemungkinan kita frustasi, dan sumber semua keinginan tersebut kebanyakan berasal dari apa yang kita lihat. Karena itu, jika dalam bulan Ramadlan ini kita belajar menundukkan pandangan, Insya Allah, kita akan merasakan kelezatan spiritual. Rasul sendiri menyatakan, “siapa yang memelihara pandangannya, ia akan merasakan lezatnya iman”.

Puasa PikiranPuasa pikiran bukan sekedar menahan pikiran-pikiran kotor dan jahat tetapi merupakan usaha secara sadar dan sungguh- sungguh untuk mengendalikan pikiran dan angan-angan yang bersifat materialistik. Kita tidak dapat mencapai hal itu kecuali terlebih dahulu melakukan puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat dan puasa atas indera-indera eksternal. Sulit bagi kita mengendalikan fakultas batin dan pikiran jika indera-indera eksternal tidak ditutup dan dibiarkan memberikan masukan- masukan yang materialistik. Syeh Abd al-Qadir Jailani menyatakan, seseorang tidak akan bertemu Tuhan Yang Maha Agung jika dalam pikirannya masih ada keinginan-keinginan ukhrawi, dan ia tidak akan mencapai kebahagiaan ukhrawi jika dalam pikirannya masih ada nafsu-nafsu rendah duniawi. Artinya, kita harus meninggalkan angan-angan dan pikiran rendah duniawi demi mencapai kemuliaan akherat, dan lebih dari itu, kita bahkan harus membuang angan-angan kemuliaan akherat itu sendiri demi mencapai Tuhan, Dzat yang mempunyai kemuliaan dunia akherat.

Itulah perbedaan antara shaum dan shiyam. Shaum bukan sekedar menahan makan dan minum melainkan usaha secara sadar untuk menjaga segala aktivitas indera lahir batin, karena puasa pada dasarnya dilakukan atas dasar iman demi mencapai taqwa (QS. al-Baqarah, 183). Bagaimanakah perilaku puasa kita di bulan Ramadlan ini, lebih baik, sama, atau justru menurun dibanding tahun lalu? Masih sekedar shiyam atau mulai meningkat menjadi shaum?????

Syirik yang Sering Diucapkan

•Juli 13, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta’ala. Kita
semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam
semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang
menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang
menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita.
Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada
Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam
beribadah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai
atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)
Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma – yang sangat luas dan mendalam
ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,’Yang dimaksud membuat
sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik
adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali
daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan
malam.’
Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik
yang samar tersebut seperti, “Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan”, “
Demi hidupku” atau “Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita
didatangi pencuri-pencuri itu” atau “Kalau bukan karena angsa yang ada di
rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu”, dan ucapan seseorang
kepada kawannya “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, juga ucapan
seseorang “Kalau bukan karena Allah dan karena fulan”.
Akhirnya beliau radhiyallahu “anhuma mengatakan, “Janganlah engkau
menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan
tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim)
(Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)
Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti
menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah)
kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan
Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar).
Syirik seperti ini ada 2 macam.
Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar
karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala.
Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau
didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti
ini kecuali Allah Ta’ala.
Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti
ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan) .
Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena
kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di
tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui
syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut
Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)
Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar,
dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.

Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini
’barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang
tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela
waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, “Bencana ini
bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro” atau mengatakan “Sialan!
Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen” atau dengan mengatakan pula,
”Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”.
Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk
yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak
Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan
menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Allah Ta’ala berfirman, “
Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah
pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi
silih berganti.” “ (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR.
Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)
Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan
makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan
ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari
Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang
jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk
tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan
menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang
menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku
dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak
sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar
pemberitaan, -seperti mengatakan,”Hari ini sangat panas sekali, sehingga
kita menjadi capek” – tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini
tidaklah mengapa.
Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah

Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang
saat ini, seperti ucapan, “Demi Nyi Roro Kidul” atau “Aku bersumpah dengan
nama …” . Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik.
Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain
Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini
hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa
mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak
diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik
akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila
orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang
dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia
telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari
dosa besar).
Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya,”Barangsiapa bersumpah
dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.
” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shohihul
Jaami’ )
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah

Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal
menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran
kepada-Nya. Allah Ta’ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat
Allah dalam firman-Nya yang artinya,”Mereka mengetahui nikmat Allah,
kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang
yang kafir.” (An Nahl: 83)
Menurut salah satu penafsiran ayat ini : “Mereka mengenal berbagai nikmat
Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati
mereka, namun lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada
selain Allah. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah,
akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah”.
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang
menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa
selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam
tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah
syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid.
Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah
Allah berikan.
Contoh dari hal ini adalah mengatakan “Rumah ini adalah warisan dari
ayahku”. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi
Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang
dimaksudkan termasuk syirik di sini adalah jika dia mengatakan demikian
dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah Ta’ala.
Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada
Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu: [1] Mensyukuri nikmat tersebut
dengan lisan, [2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati,
dan [3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan
kepada Allah. (Lihat I’anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid
’ala Kitabit Tauhid, II/93)
Perbaikilah Diri
Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan
dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering
mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa
yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki- Nya. (QS. An Nisa
[4]: 116).
Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah
di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh
kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika
aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah
rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.
Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih
dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia
shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata
yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini
Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu
kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya
ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)
Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah
dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:
”Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa
astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu” (Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan- Mu dengan sesuatu padahal aku
mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang
tidak aku sadari) (HR. Ahmad).
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://pengusahamuslim.com
Diambil dari:
http://www.pengusahamuslim.com/ belajar-islam/ aqidah/562-syirik-yang-sering-diucapkan.html

Cerita dari Sekolah Penghafal Qur’an Balita

•Juni 21, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar
Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk.,
wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll).
Kemudian, si guru ngajarin ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23” dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”,
isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg
diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz ‘amma.
Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis,
pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai
dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll.
Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya).
Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .
Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!”
(Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/ makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an) .
Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia
ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum
ba’dhaa”/Mujadalah:12) .
Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31)! , mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab.
Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” (As-Shaf:2). dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma.!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran.
Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah
yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke ! sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).
Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini. .), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa” (Al Baqarah:168) . Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun.
Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental ( bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris ), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak penghapal Quran dihadiahi pergi haji bersama orang-tuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran ( jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan dari sekolah2 lain ).
Salah satu tujuan Iran dalam hal ini ( kata salah seorang guru ) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu beda/ lain daripada yg lain.
Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak.
Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD.
Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

Cerita dari Sekolah Penghafal Qur’an Balita
Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu, saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk.,wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya, gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll).
Kemudian, si guru ngajarin ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23” dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya, “walidaini”,isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat ygdiajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz ‘amma.
Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis,pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulaidari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll.
Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang anak saya krn masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya).
Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu durasinya 90 menit .
Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, “Mama, itu israf (mubazir)!”(Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/ makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an) .
Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk “Innal hasanaat tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali diangobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukumba’dhaa”/Mujadalah:12) .
Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan ayat ttg jilbab (An-Nur:31)! , mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan jilbab.
Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” (As-Shaf:2). dia langsung bilang “Nanti nggak gitu lagi Ma.!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!
Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini, tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran.Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran. Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA (Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat, PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalahyang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya malah nangis kalau nggak diajak ke ! sekolah. Malah, buat anak saya, ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia nakal (dia akan langsung nangis, hehehe…mamanya nakal ya?).
Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan menyebut, ayat ini..ini..ini. .), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al Quran (misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab “Kuluu mimma fil ardhi halaalan thayyibaa” (Al Baqarah:168) . Anak kedua juga memiliki kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun.
Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental ( bahkan anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran oleh sebuah universitas di Inggris ), sehingga sejak itu, gerakan menghapal Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak penghapal Quran dihadiahi pergi haji bersama orang-tuanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghapal Al Quran ( jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan anak lulusan dari sekolah2 lain ).
Salah satu tujuan Iran dalam hal ini ( kata salah seorang guru ) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belah umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu beda/ lain daripada yg lain.
Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah akan membuntukan otak anak.
Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia SD.
Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal cangkem (mulut).

Temuan Ilmiah: Wanita Berbusana Minim Terlihat Bukan Manusia

•Juni 19, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Temuan Ilmiah: Wanita Berbusana Minim Terlihat Bukan Manusia

Thursday, 30 April 2009 13:16

Pakar AS meneliti pria yang melihat wanita berbusana seronok. Hasilnya,
wanita terbayang bukan manusia

Hidayatullah. com–Masih perlukah aturan khusus berpakaian atau menutup
aurat contoh dari MRIbagi pria dan wanita di zaman semodern dan sebebas
seperti sekarang ini? Tampaknya temuan ilmiah terbaru memberikan masukan
penting guna menjawab pertanyaan tersebut.

Temuan ilmiah terkini menghasilkan penjelasan mengejutkan seputar wanita
berpakaian hampir telanjang yang dilihat oleh kaum pria. Dalam otak lelaki
yang memandangnya, gambaran kaum hawa berbikini, yang mengenakan baju
mandi nyaris telanjang, dikenali bukan lagi sebagai manusia. Tapi mereka
dianggap sebagai barang atau benda untuk dipergunakan. Demikian hasil
kajian ilmiah terkini tentang perilaku kaum pria.

Penelitian ini didasarkan pada pengamatan citra atau gambaran otak dengan
menggunakan teknik “MRI brain scan”, yakni pemindaian otak
melalui pencitraan resonansi magnetis. Ketika otak kaum lelaki yang sedang
memandang gambar-gambar wanita nyaris tak berbusana dipindai, maka bagian
otak tertentu ditemukan menyala terang. Bagian otak ini berhubungan dengan
kegiatan menggunakan alat atau perkakas, misalnya obeng.

Wanita tidak berotak

“Saya tidak berkata bahwa mereka secara harafiah berpikir, foto-foto
wanita ini adalah foto-foto perkakas dalam arti sesungguhnya, atau
foto-foto bukan-manusia, tapi apa yang dimungkinkan oleh data pencitraan
otak ini adalah, kita melihatnya sebagai kiasan ilmiah. Yakni, mereka
memberikan tanggapan terhadap foto-foto ini, sebagaimana orang memberikan
tanggapan terhadap barang,” papar Fiske, yang menyabet gelar PhD dari
Harvard University di tahun 1978.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan redaksi hidayatullah. com,
temuan ini juga mengungkap bahwa kaum pria lebih cenderung mengaitkan
gambar-gambar perangsang birahi itu dengan kata-kata kerja orang pertama,
seperti “Saya dorong, saya dekap, saya pegang.” Yang
mengejutkan, sebagian lelaki yang diteliti tampak tidak menampakkan
aktivitas pada bagian otak,yang biasanya memperlihatkan tanggapan ketika
seseorang memikirkan maksud orang lain yang dilihatnya.

Apa arti temuan ini? Ini maknanya bahwa para lelaki tersebut memandang
wanita itu sebagai sesuatu yang membangkitkan nafsu birahi, tapi mereka
tidak mempedulikan apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Hal ini sungguh
aneh karena hampir tak pernah terjadi. Demikian dituturkan Susan Fiske,
profesor psikologi di Princeton University, AS. Laporan ini disampaikan di
Chicago baru-baru ini dalam rangka pertemuan tahunan lembaga ilmiah
bergengsi AS, American Association for the Advancement of Science.

Fiske dan rekan-rekannya melibatkan 21 pria bukan homoseksual dalam
penelitiannya. Setelah diberi sejumlah pertanyaan tertentu untuk dijawab,
mereka lantas dipertontonkan gambar-gambar pria dan wanita, baik yang
berpakaian minim maupun berbusana penuh. Hasilnya, sebagian besar mereka
memiliki daya ingat paling kuat terhadap foto-foto wanita yang berbikini,
alias nyaris tanpa busana, meski wanita dalam foto-foto itu tanpa kepala,
dan mereka melihatnya hanya selama seperlima detik.

“…daya ingat ini terkait dengan pengaktifan pada bagian otak pra-motor,
yang memiliki kehendak bertindak terhadap sesuatu. Jadi seolah mereka
dengan seketika berpikir bagaimana mereka bisa memperlakukan tubuh-tubuh
ini,” ujar Fiske.

Bukan manusia

Secara khusus lagi, terdapat temuan menarik pada kaum pria yang memiliki
kecenderungan tinggi berpraduga tertentu terhadap kaum hawa – yakni bahwa
wanita menguasai dan menjarah wilayah kaum pria. Pada otak jenis pria yang
berpandangan seperti ini, tidak didapati bukti aktivitas otak yang
memperlihatkan bahwa mereka melihat wanita nyaris telanjang sebagai
manusia yang memiliki pikiran dan kehendak.

“Mereka bereaksi terhadap wanita-wanita ini seolah mereka (wanita itu)
bukan sepenuhnya manusia,” tutur Fiske.

Hasil kajian ini masih dalam tahap awal. Fiske berniat meneruskan
penelitiannya itu dengan melibatkan jumlah orang yang lebih besar.

Meskipun begitu Fiske menyimpulkan, “…temuan-temuan ini semuanya cocok
dengan pendapat bahwa mereka menanggapi foto-foto ini seperti mereka
memberikan tanggapan terhadap barang (benda) dan bukan terhadap manusia
yang memiliki kehendak (kuasa) mandiri.” [ah/ng/sciam/ guardian/
http://www.hidayatullah .com]

Sumber:

1). Christine Dell’Amore (2009) “Bikinis Make Men See Women as
Objects, Scans Confirm” , National Geographic News, 16 Feb. 2009. (
http://news. nationalgeograph ic.com/news/ 2009/02/090216- bikinis-women-
men-objects. html , dikunjungi pada 25 April 2009)

2). Christie Nicholson (2009) “Women as Sex Objects”,
Scientific American, 17 Feb. 2009. ( http://www.sciam. com/podcast/
episode.cfm?- A506-BB88- CE97C91970A5C9A8 , dikunjungi pada 25
April 2009)

3). Ian Sample (2009) “Sex objects: Pictures shift men’s view of
women” , The Guardian, 16 Feb. 2009. ( http://www.guardian
.co.uk/science/ 2009/feb/ 16/sex-object- photograph , dikunjungi pada 25
April 2009)

4). Susan Fiske, Department of Psychology, Princeton University. (
http://weblamp. princeton. edu/~psych/ psychology/ research/ fiske/index.
php , dikunjungi pada 25 April 2009).

http://www.hidayatullah.com/ index.php? option=com_ content&view=
article&id= 9231:temuan- ilmiah-wanita- berbusana- minim-terlihat-
bukan-manusia- &catid=103: iptek&Itemid= 56

wanita penghuni surga itu

•Juni 19, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Murajaah: ustadz Abu Salman

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga? Aku menjawab, Ya ,Ia
berkata, Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu  alaihi
wa sallam lalu berkata, ˜Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan
auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah
Menyembuhkannya.Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, Jika engkau
mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan
mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu. Wanita itu menjawab, Aku pilih
bersabar. Lalu ia melanjutkan perkataannya, Tatkala penyakit ayan
menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.Maka
Nabi pun mendoakannya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya
seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah
satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil
meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah
seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan
jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.
Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah,
Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?Aku menjawab,
Ibnu Abbas berkata, Wanita hitam itulah.dst
Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil
diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal
yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?
Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok?
Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?
Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.
Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan
masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan
Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak
ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan
dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya
dan orang-orang yang halal baginya.
Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang
wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya,
keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk
rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.
Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik
ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan
hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak
kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih
ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan  semoga Allah Memberi mereka
petunjuk -.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang
justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka
saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau
merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga.
Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.

Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia
datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan meminta beliau
agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh
berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang
dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa.
Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih
yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.
Wanita itu berkata, Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap
(saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.
Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit
itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering
ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat
yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.
Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang
menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia
mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita
penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan
auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya
tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya
dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah
satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat
malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup
auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun
dengan rela hati membuka auratnya???
Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar.
Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, Jika engkau mau, engkau
bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar
Allah Menyembuhkanmu. Wanita itu menjawab, Aku pilih bersabar.
Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan
agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang
ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan
kesabaran yang baik.
Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan
kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka,
Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal
yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk
menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi
cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat
mencapainya dengan amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Jika datang
suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum
mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada
tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga
mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.(HR. Imam Ahmad. Dan
hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)
Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap,
dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni
dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.
Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, Tatkala penyakit ayan
menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap. Maka
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar
auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi
auratnya tidak tersingkap.

Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak
sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya.
Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita
tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di
saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya
sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang
yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu
bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya
sebagai seorang muslimah?
Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita
penghuni surga tersebut. Wallahu Taala alam.

Marji’a :Syarah Riyadhush Shalihin (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M.
***
Artikel muslimah.or. id

mencintai tanpa syarat

•Mei 31, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

KISAHNYATA = MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT???

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset
Management
yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau
juga
sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia .

Apa
yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.
Silahkan baca dan
dihayati.
*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* – – – sebuah
perenungan
Buat para suami baca ya….. istri & calon istri juga
boleh..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia
yg sudah senja bahkan
sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun
kesehariannya diisi dengan merawat
istrinya yang sakit istrinya juga
sudah tua.. mereka menikah sudah lebih 32
tahun.

Mereka
dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya
melahirkan
anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu
terjadi
selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah
bahkan
terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap
hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat
istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan
istrinya
didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya
tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum,
untunglah
tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga
siang
hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang

memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia
temani istrinya
nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia
alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi
tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno
sudah cukup senang bahkan dia
selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini
dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat
istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang
anak2
mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada
suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil
menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah
tinggal dengan
keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu
mereka dia yg merawat, yang dia
inginkan hanya satu semua anaknya
berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ”
Pak kami ingin sekali
merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak
merawat ibu tidak ada sedikitpun
keluhan keluar dari bibir
bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu” . dengan
air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah
yg keempat
kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan
mengijinkannya,
kapan bapak menikmati masa tua bapak
dengan berkorban seperti ini
kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji
kami akan merawat
ibu sebaik-baik secara bergantian”. .

Pak Suyatno menjawab hal yg
sama sekali tidak diduga anak2 mereka.”
Anak2ku ……… Jikalau
perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu,
mungkin bapak
akan menikah….. ..tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian
disampingku
itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak
kerongkongannya
tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini
dengan
penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian

tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini.

Kalian
menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia
meninggalkan
ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan
bapak yg masih diberi
Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,
bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis
anak2 pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil
jatuh dipelupuk
mata ibu Suyatno… dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya
itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu
stasiun
TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan

kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat
Istrinya yg sudah
tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis
beliau dengan tamu yg hadir di
studio kebanyakan kaum perempuanpun
tidak sanggup menahan haru disitulah Pak
Suyatno bercerita.

“Jika
manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya,
tetapi
tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian)
adalah
kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping
hidup saya, dan sewaktu
dia sehat diapun dengan sabar merawat saya
mencintai saya dengan hati dan
batinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena
berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan
ujian bagi
saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa
adanya.
Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”